Pages

Minggu, 02 Januari 2011

SUMBER BELAJAR

BAB II
PERPUSTAKAAN
SEBAGAI SUMBER BELAJAR

A.    Pengertian Perpustakaan
Secara sederhana pengertian perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan buku-buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (guru, siswa dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Dengan memanfaatkan perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi untuk memecahkan berbagai masalah, sumber untuk menentukan kebijakan tertentu, serta berbagai hal yang sangat penting untuk keperluan belajar. Lebih luas lagi pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.
Perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti buku. Setelah mendapat awalan per dan akhiran an menjadi perpustakaan, yang berarti kitab, kitab primbon, atau kumpulan buku-buku, yang kemudian disebut koleksi bahan pustaka. Koleksi perpustakaan tidak hanya terbatas berbentuk buku-buku, majalah, koran, atau barang tercetak (printed matter) lainnya.
Koleksi perpustakaan telah berkembang dalam bentuk terekam dan digital (recorded matter). Selanjutnya buku-buku dan bahan pustaka yang lain tersebut harus ditata dan disusun rapi dirak dan tempat-tempat yang sudah ditentukan di dalam ruangan atau gedung tersendiri, setelah diolah atau diproses menurut suatu sistem tertentu. Salah satu sistem pengelompokan  koleksi menurut subjek, misalnya menurut Dewey Decimal Clasification (DDC). Kemudian  dibuatkan kartu-kartu catalog, sebagai wakil dari koleksi perpustakaan, untuk pedoman penyusunan dan menemukan kembali.

B.    Perpustakaan Merupakan Media Pendidikan Sepanjang Hayat
Dalam dunia pendidikan, kita sering mendengar istilah pendidikan sepanjang  masa pendidikan sepanjang hayat, atau pendidikan seumur hidup (life long education). Dalam terminology yang lain ada pepatah yang berbunyi: “carilah ilmu dari ayunan sampai keliang kubur”. Ajaran yang lain menyatakan  bahwa “carilah ilmu sampai ke negri China”. Artinya kurang lebih, bahwa kita harus belajar sejak kecil sampai mendekati ajal, selagi ada kesempatan. Jika kita renungkan, pada hakekatnya dalam kehidupan ini, setiap saat kita memang harus belajar, baik disengaja maupun tidak, karena makna belajar sesungguhnya tidak terbatas pada bangku sekolah/kuliah dan kepada Bapak dan Ibu Guru/Dosen, tetapi dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja termasuk kepada diri sendiri.
Sebuah perpustakaan, apapun jenisnya, apa saja sumber informasi dan ilmu  pengetahuan yang terkandung di dalamnya, dan siapa pun yang ingin belajar di dalamnya. Perpustakaan tersebut merupakan media, sarana dan alat untuk belajar, menambah ilmu, mengembangkan kemampuan yang tak habis-habisnya. Semakin sering dan semakin banyak seseorang menimba dan memperoleh ilmu pengetahuan, maka semakin kaya ia dalam ilmu tersebut, sementara ilmu yang ada di perpustakaan tidak akan berkurang sedikitpun.
Sebagai media belajar, terutama pendidikan yang non-formal, perpustakaan memberikan waktu, kesempatan, layanan, sumber bacaan, yang lebih lama, luas, relative bebas, dan biaya yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan sekolah atau kuliah. Setiap saat perpustakaan di buka, siapa saja dapat dan boleh masuk, membaca dan belajar. Perpustakaan secara adil, demokratis, jujur, terbuka memberikan layanan yang sama kepada masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Untuk sebuah perpustakaan umum sering diibaratkan sebagai Universitas Rakyat. Maksudnya adalah bahwa perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai informasi ilmu pengetahuan, tehnologi dan budaya, sebagai sumber belajar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan bagi semua lapisan masyarakat.
Pengetahuan hampir seluruhnya telah  tercatat dalam bentuk buku dan bahan-bahan pustaka lainnya, yang sampai batas tertentu terhimpun dalam koleksi sebuah perpustakaan. Sehingga, dengan demikian segala apa yang telah dicapai manusia telah tecatat. Oleh karena kemampuan dari seorang individu sekarang kurang memadai, konsekuensinya perpustakaan sebagai alat untuk mengingat kehidupan social (social memory) makin berperan.
Istilah sosislisasi atau pemasyarakatan bagi perpustakaan selalu dikaitkan dengan upaya:
1)    Promosi dan publikasi.
2)    Menjaring minat dan respon masyarakat.
3)    Mengembangkan kerja sama.
4)    Memberikan sesuatu yang berguna.
5)    Mengembangkan upaya mendekatkan dan membangun media atau jembatan antara perpustakaan.
C.    Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Belajar
Kita mengenal berbagai perpustakaan, dokumentasi, dan informasi (Pusdokinfo). Disamping institusi tersebut masih ada lembaga-lembaga lain yang mempunyai kegiatan yang sama, hampir sama atau berdekatan. Misalnya pusat-pusat kajian, clearing hoese, pusat data dan pangkalan data (data base). Lembaga-lembaga semacam ini merupakan pusat-pusat sumber belajar (clearing resources center), pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, bagi kelompok-kelompok masyarakat tertentu, yang disebut pekerja ilmiah.
    Di dalam lembaga-lembaga itu dilakukan kegiatan ilmiah, rekayasa, uji coba, laboratorium, dan lain sebagainya. Dari sana dikembangkan dan sering dihasilkan ide, gagasan, inspirasi, dan inovasi serta penemuan baru. Oleh karena itu kemudian muncul ilmu-ilmu baru, timbul harapan, produk baru dan prospek yang lebih baik. Ilmu-ilmu dan rekayasa baru tersebut harus dikemas lebih baik dan lebih variatif agar menarik pengunjung. Para ilmuan, cerdik cendikia, dan peneliti yang telah mengabdikan dirinya dan mencurahkan pikirannya sebagian besar waktunya, untuk menemukan sesuatu yang baru dan sangat beguna bagi kehidupan umat manusia.
    Ilmu pengetahuan identik dengan perubahan, karena setiap saat berkembang dan muncul ilmu yang baru. Begitu seterusnya, suatu inovasi dan perubahan yang tidak berhenti. Oleh sebab itu perpustakaan dan lembaga-lembaga sejenisnya merupakan pusat sumber belajar bagi banyak orang, pengguna jasa dan layanan perpustakaan serta masyarakat pada umumnya. Mestinya mereka memakai perpustakan tersebut berterima kasih kepada penyelenggara perpustakaan dan layanan serta bantuan. Lebih dari pada itu, perpustakaan adalah milik kita yang pemeliharaanya dan pengembangannya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan swasta.
D.    Jenis-Jenis Layanan di Perpustakaan
Perpustakaan sekolah harus memegang prinsip demokratisasi informasi. Artinya melakukan berbagai kegiatan harus dapat melayani semua peserta didik tanpa membedakan status social, budaya, ekonomi, pendidikan maupun status lainnya. Perpustakaan mempunyai dua jenis layanan yaitu:
1.    Layanan Tertutup
Layanan ini dilakukan dengan pertimbangan keselamatan koleksi, koleksi yang dilayani secara tertutup biasanya koleksi jurnal dan buku referensi.
2.    Layanan   Terbuka
Dengan layanan ini pengunjung bebas untuk meminjam koleksi apapun dengan melalui administrasi yang telah dibuat oleh perpustakaan.
Adapun, jenis-jenis layanan yang dapat dilakukan oleh perpustakaan sekolah antara lain:
1.    Layanan Sirkulasi
Layanan ini berupa pemberian kesempatan bagi anggota perpustakaan untuk meminjam bahan pustaka yang dapat dibawa pulang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2.    Layanan Membaca di Perpustakaan
Kegunaannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada para pengunjung  yang belum jadi anggota perpustakaan mereka hanya dapat membaca saja sehingga disediakan layanan membaca ditempat layanan.
3.    Pemutaran Film
Pada zaman sekarang dongeng bisa disampaikan bukan saja bukan saja dengan penuturan, melainkan bisa melalui perangkat audiovisual. Pemutaran film merupakan jenis layanan yang sangat digemari masyarakat. Pemutaran film merupakan saran yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan dan promosi perpustakaan.
4.    Layanan Jasa Informasi
Layanan ini disediakan untuk orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhan informasinya namun tidak memiliki waktu atau pengetahuan yang cukup tentang cara-cara menelusuri informasi dari berbagai sumber atau media informasi.
Layanan pemakai perpustakaan dan kepuasan pemakai, dalam peranannya menyediakan dan melayankan segala informasi, perpustakaan menghadapi berbagai kategori  informasi atau  produk yang dihasilkan untuk dilayankan kepada pemakai perpustakaan.
Perpustakaan suatu jasa layanan prima, perlu menyadari bahwa dirinya pun dipengaruhi situasi kompetitif. Model pelayanan service quality pun berusaha mengedintifikasikan kesenjangan antara layanan yang diharapkan dan layanan yang diterima oleh pemakai perpustakan, dalam hal ini kualitas perpustakaan terdiri atas 2 aspek:
1.    Funcional Quality artinya perpustakaan yang fungsinya sebagai sumber informasi perlu melengkapi koleksinya secara terus-menerus dan terbaru.
2.    Tehnical Quality artinya  perpustakaan perlu memiliki sumber daya dengan kualifikasi teknis yang baik, mengaplikasikan akses ke tehnologi informasi yang relevan dan menunjukan sikap melayani dan terampil dalam melakukannya.


E.    Pengembangan Kebiasaan Membaca Melalui Perpustakaan Sekolah
Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan atmosfir sekolah yang menunjang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca siswa. Diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan kegemaran membaca siswa akan berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca. Keterampilan membaca dan kegemaran membaca memiliki hubungan yang saling mendukung. Upaya-upaya peningkatan minta membaca perlu dilakukan baik oleh guru dengan tujuan agar siswa mempunyai kemauan untuk melakukan kegiatan membaca sesering mungkin di luar kelas.
Pada lingkungan sekolah perpustakaan mempunyai peran yang sangat strategis dalam hal penyediaan fasilitas untuk meningkatkan minat baca siswa. Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh seseorang, termasuk anak-anak dalam usia sekolah. Minat baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk. Dalam kaitan ini dapat kita simak teori rangsangan dan dorongan. Dorongan adalah daya motivasional yang mendorong lahirnya perilaku yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Dorongan yang dimaksud adalah motivasi tidak hanya untuk perilaku tertentu saja, melainkan perilaku apa saja yang berkaitan dengan kebutuhan dasar yang diinginkan seseorang. Dorongan-dorongan tersebut dapat muncul dari dalam diri orang tersebut atau dapat dirangsang dari luar.
Memperhatikan asal dari dorongan untuk berperilaku, dapat diprediksikan bahwa minat dan kegemaran membaca itu timbul dalam diri anak maupun dari orang-orang lain di lingkungan sekitar. Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu melibatkan unsur-unsur berikut ini:
a.    Anak didik pada semua jenjang SD, SLTP, SLTA.
b.    Guru sekolah, kepala sekolah, pengawas sekolah.
c.    Sekolah dengan berbagai program kegiatan yang dapat menunjang pengkondisian tumbuhnya minat dan kegemaran membaca.
d.    Orang tua di rumah.
e.    Lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah.
f.    Lembaga-lembaga masyarakat yang berminat terhadap pengembangan minat dan kegemaran membaca, misalnya dengan mendirikan pondok baca.
g.    Pemerintah melalui berbagai program yang dikembangkan, seperti adanya kegiatan bulan buku nasional pada setiap bulan Mei, hari Aksara Internasional pada setiap bulan September, hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada bulan September, kegiatan tersebut bisa dikaitkan dengan pembinaan minat dan kegemaran membaca.
Motivasi yang berasal dari anak merupakan dorongan yang bersifat internal, sedangkan dorongan dari pihak lainnya bersifat eksternal. Dengan kata lain bila akan merumuskan strategi peningkatan minat dan kegemaran membaca anak didik maka dua model strategi tersebut patut dipertimbangkan, yaitu model strategi yang didasarkan pada motivasi internal dan model yang digerakkan oleh motivasi eksternal.
Sekurang-kurangnya terdapat tiga dimensi pengembangan minat dan kegemaran membaca yang perlu dipertimbangkan yaitu:
1.    Dimensi Edukatif Pedagogik
Dimensi ini menekankan tindak-tindak motivasional apa yang dilakukan para guru di kelas, untuk semua bidang studi yang akhirnya para siswa tertarik dan memiliki minat terhadap kegiatan membaca untuk tujuan apa saja. Paradigma pengajaran saat ini adalah berpusat pada anak didik, maka pengembangan minat baca hendaknya dimulai dari aktivitas belajar sehari-hari di kelas.
2.    Dimensi Sosio Kultural
Dimensi ini mengandung makna bahwa minat baca siswa dapat digalakkan berdasarkan hubungan-hubungan sosial dan kebiasaan anak didik sebagai anggota masyarakat. Misalnya dalam masyarakat paternalistik, orang tua atau pemimpin selalu menjadi panutan. Dalam hal ini jika yang dijadikan panutan memiliki minat baca maka dapat diprediksi bahwa anak juga dengan sendirinya terbawa situasi tersebut, artinya anak akan memiliki sikap dan kegemaran membaca.
3.    Dimensi Perkembangan Psikologis
Anak usia sekolah pada jenjang SD/SMP/SMU merupakan usia anak pra remaja. Tahap pertengahan masa anak-anak di dominasi dengan fungsi pengamatan, fungsi rasa ingin tahu yang cukup kuat. Pada masa ini perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dalam upaya memotivasi kegemaran membaca siswa. Pengamatan membaca yang jitu biasanya melalui ilustrasi gambar. Penalaran intelektual mudah dirangsang melalui diskripsi yang dikotomis, argumentasi yang menggugah. Peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dalam segi jumlah maupun dalam kualitas bacaan. Pada aspek lain minat baca senantiasa perlu dikembangkan.
Di lingkungan anak usia sekolah usaha pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan prinsip jenjang dan pikat. Prinsip pertama perlu adanya usaha untuk memikat pengguna untuk mulai menyenangi kegiatan membaca. Prinsip kedua perlu ada upaya untuk mengkondisikan perlunya penyediaan meteri bacaan yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat memperkuat minat baca anak, yang senantiasa terus mendorong anak untuk maju menuju pada kegiatan membaca yang berkualitas. Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegemaran membaca siswa melalui perpustakaan adalah:
a.    Menyediakan bahan bacaan yang diminati siswa, yang sesuai dengan keragaman tingkat perkembangan anak.
b.    Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa melalui penataan yang bagus, dengan pelayanan yang ramah.
c.    Membuat promosi dan kegiatan pengembangan minat dan kegemaran membaca dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah.
d.    Memberikan tugas tambahan kepada siswa di luar kelas. Pemberian tugas tambahan ini tentunya berkaitan dengan terbatasnya jam pelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu guru sebaiknya senantiasa mendorong siswa untuk lebih banyak membaca di luar jamjam sekolah (di rumah). Tugas membaca dapat dipantau dengan membuat laporan, resensi buku, atau membuat laporan garis besar isi buku yang telah dibacanya (sinopsis) dengan memanfaatkan bacaan yang tersedia di perpustakaan.
e.    Tersedianya waktu bagi siswa untuk berkunjung ke perpustakaan baik secara perseorangan maupun klasikal yang sekaligus merupakan jam belajar di perpustakaan.
f.    Mengintegrasikan perpustakaan dalam kegiatan belajar mengajar.
F.    Fungsi Serta Manfaat Perpustakaan
Secara singkat rumusan fungsi dan manfaat  perpustakaan sekolah pada umumnya dan perpustakaan sekolah pendidikan Guru pada khususnya adalah sebagai berikut:
1.    Perpustakaan sebagai sarana penunjang pendidikan
 Pengetahuan umat manusia, hampir seluruhnya telah tercatat dalam bentuk buku dan bahan-bahan pustaka lainnya, yang sampai batas tertentu terhimpun dalm koleksi sebuah perpustakaan sehingga dengan demikian segala apa yang telah dicapai manusia telah tercatat. Oleh karena kemampuan dari seorang individu sekarang kurang memadai, konsekuensinya perpustakaan sebagai alat untuk mengingat kehidupan social (social memory)  makin berperan.
2.    Perpustakaan merupakan sumber pembinaan kurikulum
Perpustakaan sekolah yang baik akan merupakan sumber utama yang memberikan bahan lengkap dalam penyusunan dan pembinaan kurikulum.
3.    Perpustakaan sebagai sarana proses mengajar/belajar
Baik pengajar maupun peserta didik sering tidak puas jika hanya bersumber pada satu dua buku teks saja. Dalam hal ini mungkin merasa perlu mengadakan perbandingan dengan materi dalam buku lain, atau memperkaya materi dengan membaca referensi lain, atau menambahnya dengan keterangan dari majalah, koran dan sebagainya yang semua bahan terebut dapat diperoleh dari perpustakaan.
4.    Perpustakaan sebagai saran penanaman dan pembinaan minat baca
Disamping buku-buku yang akan menunjang proses belajar/mengajar, sebuah perpustakaan harus pula menyediakan buku-buku bacaan yang menarik yang akan menggugah kesenangan membaca sesuai dengan selera masing-masing.
5.    Perpustakaan dan peranan disiplin
Pendayagunaan sebuah perpustakaan harus di atur sehingga buku-buku di pakai oleh sebanyak mungkin yang memerlukannya. Lama pinjaman harus ditetapkan, kalau terlambat mengembalikannya, rusak atau hilang dikenakan sangsi. Dalam hal ini para pemakai harus sanggup mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan.
6.    Perpustakaan dan rekreasi
Disamping menyediakan bahan yang berhubungan dengan pelajaran, perpustakaan pun harus menyediakan bahan-bahan bacaan yang bersifat hiburan, sehat; roman, puisi, cerpen, sandiwara dan karya-karya sastra lainnya dalam lingkup lokal, nasional, maupun internasional.
7.    Perpustakaan dan penelitian
Untuk mengerjakan suatu proyek, memperdalam suatu persolan, mempersiapkan suatu diskusi dan sebagainya, para siswa perlu menelusuri informasi yang mutakhir serta mengumpulkan data yang relevan.
8.    Perpustakaan dan calon Guru
Para pengajar bisa memberi bimbingan kepada para siswanya tentang seluk-beluk perpustakaan baik untuk keperluan educative, informative, riset maupun rekreatif. Oleh karenanya sangatlah wajar para calon guru SD atau MI diberi pelajaran ilmu perpustakaan.






BAB III
PENUTUP

Simpulan
Perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan buku-buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (guru, siswa dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Dalam dunia pendidikan, kita sering mendengar istilah pendidikan sepanjang  masa pendidikan sepanjang hayat atau pendidikan seumur hidup (life long education).
Dalam terminology yang lain ada pepatah yang berbunyi: “carilah ilmu dari ayunan sampai keliang kubur”. Ajaran yang lain menyatakan  bahwa “carilah ilmu sampai ke negri China”. Artinya kurang lebih, bahwa kita harus belajar sejak kecil sampai mendekati ajal, selagi ada kesempatan.
    Kita mengenal berbagai perpustakaan, dokumentasi, dan informasi (Pusdokinfo). Disamping institusi tersebut masih ada lembaga-lembaga lain yang mempunyai kegiatan yang sama, hampir sama atau berdekatan. Perpustakaan mempunyai dua jenis layanan yaitu: layanan tertutup dan layanan terbuka. Adapun, jenis-jenis layanan yang dapat dilakukan oleh perpustakaan sekolah antara lain: layanan sirkulasi, layanan membaca di perpustakaan, pemutaran film, layanan jasa informasi.
Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan atmosfir sekolah yang menunjang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca siswa. Sekurang-kurangnya terdapat tiga dimensi pengembangan minat dan kegemaran membaca yang perlu dipertimbangkan yaitu: dimensi edukatif pedagogik, dimensi sosio kultural, dimensi perkembangan psikologis. Fungsi serta manfaat perpustakan sekolah pada umumnya yaitu: sebagai saran penunjang pendidikan, sumber pembinaan kurikulum, sarana proses mengajar/belajar, sarana penanaman dan pembinaan minat baca, penanaman disiplin, rekreasi, penelitian, dan calon Guru.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. 2007. Dasar-Dasar ilmu Perpuatakaan dan Informasi. Yogyakarta. Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab.
http//library-teguh.blogspot.com/2009/perpustakaan-mempunyai lima fungsi.
http// library.um.ac.id/images/gbjps/art01dar.
S., Noerhayati. 1987. Pengelolaan Perpustakaan. Bandung. Alumni.
Zen, Zulfikar . 2006. Manajemen perpustakaan. Jakarta. Sagung Seto.